SUMATERA UTARA — Pengakuan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan saat tiba di Pangkalan Gabungan Andrews dari Ohio. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk tidak menggunakan Air Force One dalam penerbangan tersebut sepenuhnya merupakan instruksi dari aparat keamanan yang mendampinginya.
"Saya hanya mengikuti apa yang ingin mereka lakukan. Jadi, saya mengikuti arahan Secret Service dan militer. Mereka ingin saya menggunakan penerbangan lain, pesawat lain—dengan tingkat keamanan yang sama—tetapi mereka meminta saya melakukannya, jadi saya pun melakukannya. Saya melakukan apa yang mereka katakan," ujar Trump kepada wartawan, Rabu (12/8).
Alasan di Balik Manuver Rahasia
Trump mengaku tidak diberi banyak rincian mengenai alasan spesifik di balik pergantian pesawat secara mendadak tersebut. Ia hanya menduga adanya potensi bahaya yang mengintai dirinya.
"Saya rasa ada ancaman di luar sana. Saya tidak terlalu banyak bertanya soal itu. Saya sering menerima banyak ancaman," katanya.
Pernyataan ini memperkuat laporan The New York Times dan Wall Street Journal yang menyebut pergantian pesawat tersebut dipicu oleh rencana Iran untuk menargetkan Trump dengan rudal panggul (shoulder-fired missile) saat ia bertolak dari KTT NATO.
Alasan Air Force One Dianggap Lebih Berisiko
Saat disinggung mengapa pesawat kepresidenan dianggap terlalu berbahaya baginya namun tidak bagi wartawan yang ikut meliput, Trump memberikan penjelasan tegas. Ia menilai pesawat yang ditumpanginya justru memiliki potensi lebih besar untuk menjadi sasaran serangan.
"Menurut saya, pesawat yang saya tumpangi justru memiliki risiko lebih besar... Karena menurut saya, itulah pesawat yang kemungkinan besar akan mereka incar," ujarnya.
Presiden mengaku tidak terkejut ketika Secret Service meminta dirinya untuk melakukan pergantian pesawat secara rahasia. Ia juga tidak merasa khawatir ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan rudal saat keberangkatannya dari Turki.
"Sejujurnya, saya tidak mengkhawatirkan apa pun. Apa pun itu—Anda tahu bagaimana sikap saya? Ya, hadapi saja," kata Trump.