MEDAN — Rencana renovasi Chapel USU bukan wacana baru. Direktur Direktorat Pengelolaan Infrastruktur Akademik USU, Rapido P. Gultom, ST., M.Si., mengungkapkan penataan fasilitas ini telah dirancang sejak 2015. Salah satu pemicunya adalah lokasi chapel yang kerap terdampak banjir saat curah hujan tinggi.
“Yang perlu kami tegaskan, Chapel USU tetap diperuntukkan menjadi rumah ibadah bagi civitas akademika dan warga Kristen di lingkungan USU. Renovasi dilakukan untuk meningkatkan fungsi, kualitas, keamanan, dan kenyamanan bangunan, bukan untuk mengubah fungsi chapel,” ujar Rapido di Medan, Senin (10/8/2026).
Kapasitas Lama 350 Orang, Kini Butuh Lebih Representatif
Ketua Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) USU, Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., menjelaskan renovasi lahir dari desakan jumlah jemaat yang terus bertumbuh. Dengan lebih dari 9.000 mahasiswa Kristen yang tersebar di 16 fakultas, ruang ibadah yang ada dinilai tidak lagi memadai.
“Chapel selama ini difungsikan sebagai sarana pembinaan kerohanian bagi mahasiswa, dosen, pegawai, dan warga Kristen di lingkungan USU. Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen, kebutuhan terhadap fasilitas pembinaan kerohanian yang lebih memadai juga semakin besar,” kata Robert.
Ibadah Tetap Berjalan: Kampus Sediakan Gedung Alternatif
Kekhawatiran terhentinya kegiatan keagamaan selama pembangunan dijawab langsung oleh jajaran rektorat. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama yang juga Ketua Panitia Hari Besar Kristen USU, Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., memastikan aktivitas peribadatan tidak akan putus.
“Selama proses renovasi berlangsung, kampus tetap memfasilitasi gedung yang dapat digunakan untuk kegiatan kerohanian. Dengan demikian, kegiatan pembinaan dan aktivitas keagamaan tetap dapat berjalan meskipun Chapel sedang dalam proses penataan dan renovasi,” ujar Himsar.
Ia menambahkan, penyediaan fasilitas sementara itu merupakan bentuk komitmen USU untuk memastikan kegiatan keagamaan sivitas akademika tetap mendapatkan ruang yang memadai. “Prinsipnya, kegiatan keagamaan tetap difasilitasi,” tegasnya.
Dukungan Warga dan Imbauan Menjaga Kondusivitas
Di tengah proses relokasi, sejumlah warga kampus menyatakan dukungannya. Seorang warga yang mengaku anak dari Dr. Hotma P menilai langkah USU sudah tepat dan tidak menghalangi ibadah.
“USU sudah baik. Ini bukan melarang orang beribadah. Dipindahkan ada tempat sementara, ini dibuat untuk mahasiswa USU bisa digunakan untuk kegiatan beribadah,” ujarnya.
Prof. Robert mengajak seluruh sivitas akademika melihat proses ini secara utuh dan proporsional. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik agar penataan fasilitas berjalan kondusif tanpa mengganggu kepentingan bersama.
“Kami berharap seluruh pihak dapat memahami proses ini secara proporsional. Yang terpenting adalah bagaimana fungsi pembinaan kerohanian tetap berjalan dengan baik dan fasilitas yang nantinya tersedia dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi warga Kristen di lingkungan USU,” kata Robert.