MEDAN — Puluhan ulama dan tokoh lintas organisasi kemasyarakatan Islam di Sumatera Utara dijadwalkan menghadiri Halaqah Alim Ulama bertajuk "Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibrah", Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini merupakan kolaborasi MUI Sumut dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) yang berpusat di Jakarta.
Forum ini sengaja menghadirkan narasumber dengan latar belakang yang berseberangan secara langsung. Ustaz Arif Siswanto, mantan petinggi Jamaah Islamiyah, akan duduk satu forum dengan Mulyono Sutrisman, penyintas Bom Kuningan 2004. Dua perspektif ini dihadirkan agar peserta dapat menarik pelajaran dari dampak nyata kekerasan dan pentingnya rekonsiliasi.
Selain Arif Siswanto dan Mulyono Sutrisman, diskusi akan menghadirkan Ketua MUI Pusat Bidang Kerukunan, Dr. KH. Abdul Moqsith Ghazali, untuk memperkaya perspektif tentang kerukunan umat. Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi, juga akan memaparkan dinamika geopolitik dan pengaruhnya terhadap diskursus keislaman di Indonesia.
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Dr. Basnang Said, dijadwalkan menjadi keynote speaker. Sementara itu, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. KH. Maratua Simanjuntak, akan memberikan sambutan sekaligus opening remark. Diskusi dipandu oleh Ketua MUI Sumatera Utara, Dr. H. Akmal Syahputra.
Halaqah ini tidak hanya diikuti pengurus MUI provinsi dan kabupaten/kota. Panitia juga mengundang pimpinan pondok pesantren, pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM), serta sekitar 30 peserta dari jaringan Islamiyah. Keterlibatan elemen ini dinilai penting untuk membuka ruang dialog yang selama ini jarang tersentuh.
Ketua MUI Sumut, Maratua Simanjuntak, menegaskan bahwa pendekatan ibrah mengajak umat untuk tidak berhenti pada sebuah peristiwa, tetapi menggali pelajaran darinya. Menurutnya, pengalaman konflik dan perbedaan pandangan dapat menjadi bahan evaluasi untuk membangun kehidupan keagamaan yang lebih matang.
Tema halaqah ini dinilai relevan dengan kondisi umat yang semakin kompleks. Perbedaan pemahaman, polarisasi, dan derasnya arus narasi keagamaan di ruang digital membutuhkan respons yang tidak hanya normatif, tetapi juga reflektif. Forum ini diharapkan menjadi ruang mendengar pengalaman, bukan sekadar berbicara.
Kolaborasi MUI Sumut dan AIDA diharapkan mampu mencegah terulangnya persoalan masa lalu yang merusak persatuan. Dari sejarah, umat belajar. Dari pengalaman, umat mengambil ibrah. Dari ukhuwah, umat menemukan kekuatan untuk berjalan bersama.