DELI SERDANG — Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Deli Serdang meminta pemerintah kecamatan, pemerintah desa, sekolah, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat untuk melakukan seleksi ketat terhadap konsep lomba dan hiburan dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Ketua LPA Deli Serdang, Junaidi Malik, menegaskan bahwa hiburan yang mempertontonkan perilaku atau ekspresi gender secara berlebihan kepada anak harus dievaluasi.
"Setiap kegiatan yang melibatkan anak harus mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak dan memperhatikan nilai edukasi, kepantasan, pembentukan karakter serta lingkungan tumbuh kembang yang aman," ujar Junaidi Malik, Senin (10/8/2026) malam.
Junaidi menyoroti sejumlah bentuk lomba yang kerap menjadi hiburan namun berpotensi menjadikan identitas gender sebagai bahan lelucon. Salah satu contoh yang disebutnya adalah lomba sepak bola yang memaksa laki-laki mengenakan daster dengan riasan serta gestur berlebihan di hadapan anak-anak.
Selain itu, ia juga menyebutkan lomba joget berpasangan, fashion show, lomba meniru artis, karaoke, lomba rias, serta drama atau parodi yang menampilkan gestur vulgar atau adegan romantis perlu diseleksi ulang. Menurutnya, tawa penonton tidak sebanding dengan dampak buruk yang mungkin diserap oleh anak-anak yang menyaksikan.
Di tengah imbauan tersebut, Junaidi Malik menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud melakukan persekusi, kekerasan, penghinaan, ataupun diskriminasi terhadap individu mana pun. Ia menekankan bahwa setiap manusia harus tetap dihormati.
"Tetapi ruang kegiatan anak juga harus dijaga. Anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan saksikan berulang-ulang," tegasnya.
Sebagai solusi, LPA Deli Serdang mendorong panitia untuk mengganti atau memperbaiki konsep lomba dengan kegiatan yang membangun karakter. Sejumlah alternatif yang direkomendasikan antara lain permainan tradisional, olahraga, cerdas cermat kebangsaan, dan membaca puisi kemerdekaan.
Kegiatan lain yang dinilai lebih aman dan mendidik adalah storytelling kepahlawanan, menggambar dan mewarnai, seni budaya daerah, hafalan Pancasila, hingga gotong royong. Junaidi menambahkan, kegiatan edukatif bersama keluarga juga bisa menjadi pilihan untuk mengisi momen kemerdekaan.
"LPA mendorong panitia mengganti atau memperbaiki konsep lomba dengan kegiatan yang membangun karakter," tutupnya.