MEDAN — Gerak harga kebutuhan pokok di Sumatera Utara pada awal pekan ini menunjukkan pola yang berbeda antarkomoditas. Jika harga cabai merah turun cukup dalam, komoditas cabai rawit justru merangkak naik hingga menembus level tertinggi di kawasan pesisir barat.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, Senin (10/8/2026), mengatakan penurunan harga cabai merah terjadi hampir merata di pasar-pasar tradisional Kota Medan dan sekitarnya. Salah satu penurunan paling tajam terpantau di Pasar Tradisional Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.
"Sebagai contoh harga cabai merah di pasar tradisional Tanjung Morawa, pada akhir pekan sebelumnya (07/08) ditransaksikan dikisaran 35 ribu per Kg, pada hari ini ditransaksikan turun dikisaran 28 ribu per Kg," ungkapnya.
Gunawan menjelaskan bahwa membanjirnya pasokan dari daerah penghasil utama menjadi faktor utama yang menekan harga di tingkat pedagang. Wilayah produksi cabai merah di Batubara, tepatnya Lubuk Cuik, disebut menjadi penyumbang pasokan terbesar yang masuk ke pasar-pasar tradisional di Kota Medan.
"Seperti yang dikuatirkan sebelumnya dimana pasokan yang membanjiri pasar tradisional di Kota Medan, dari wilayah produksi cabai merah Batubara (Lubuk Cuik) menjadi pemicu penurunan harga," tuturnya.
Meski mayoritas wilayah mencatat penurunan, pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) justru mencatat lonjakan harga di kawasan kepulauan. Harga cabai merah tertinggi hari ini berada di Kota Gunung Sitoli, Nias, yang ditransaksikan mencapai Rp 47.500 per kilogram.
Berbeda dengan cabai merah, komoditas hortikultura pedas lainnya justru menunjukkan pergerakan yang cenderung merangkak naik. Gunawan menyebut harga cabai rawit ditransaksikan stabil dengan kecenderungan naik sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per kilogram.
"Harga cabai rawit saat ini ditransaksikan dalam rentang 60 hingga 67 ribu per Kg untuk wilayah Kota Medan dan Deli Serdang," ujarnya.
Data PIHPS juga merekam titik harga tertinggi untuk komoditas cabai rawit di wilayah pesisir barat. "Mengacu pada PIHPS, harga cabai rawit tertinggi ada di wilayah Sibolga dengan harga 72.500 per Kg," tambahnya.
Pergerakan harga juga terjadi pada sektor peternakan yang menjadi pendorong konsumsi harian masyarakat. Harga daging ayam dan telur ayam di beberapa pasar terpantau bergerak naik, dengan kawasan Nias kembali mencatatkan rekor harga tertinggi di tingkat provinsi.
"Berdasarkan pemantauan melalui PIHPS, harga daging ayam tertinggi berada di Kota Gunung Sitoli Nias, harganya mencapai 60 ribu per Kg," katanya.
Untuk kawasan perkotaan Medan dan sekitarnya, komoditas daging ayam segar masih diperdagangkan dalam rentang harga yang relatif terkendali. "Berdasarkan hasil pengamatan melalui PIHPS, harga daging ayam di Kota Medan dan Deli Serdang masih bergerak dalam rentang 39 hingga 41.500 per Kg nya," jelasnya.
Sementara itu, telur ayam yang dijual secara eceran di pasar-pasar tradisional masih ditransaksikan dalam rentang Rp 1.600 hingga Rp 2.200 per butir.
Adapun berbagai kebutuhan dasar masyarakat lainnya di wilayah Sumatera Utara secara umum masih dalam kondisi yang terjaga. Fluktuasi harga komoditas bumbu dapur seperti bawang tercatat masih dalam batas acuan pemantauan resmi pemerintah.
"Bawang putih berada dikisaran 28 hingga 32 ribu per Kg, bawang merah ditransaksikan 26.500 hingga 31 ribu per Kg berdasarkan hasil pemantauan melalui PIHPS Kota Medan," paparnya.
Untuk komoditas minyak goreng curah, hasil peninjauan langsung di lapangan menunjukkan tingkat harga yang tidak banyak berubah. "Untuk harga minyak goreng curah berdasarkan pengamatan langsung masih berada dikisaran 18 ribu hingga 22 ribuan per Kg," paparnya.
Sedangkan untuk bahan pangan pokok beras, tingkat harga di pasaran wilayah Sumatera Utara secara keseluruhan terpantau sangat konsisten. "Dan untuk beras medium masih stabil dalam rentang 14 ribuan hingga 17 ribuan per Kg di Sumut," pungkasnya.