Pencarian

Harga Bitcoin Gagal Tembus US$87.000, Analis Sebut Level US$84.500 Jadi Kunci Arah Tren

Jumat, 09 Oktober 2026 • 17:01:01 WIB
Harga Bitcoin Gagal Tembus US$87.000, Analis Sebut Level US$84.500 Jadi Kunci Arah Tren
Harga Bitcoin terkoreksi setelah gagal menembus level resistance US$87.000.

MEDAN — Pelemahan Bitcoin sejalan dengan koreksi tipis pasar aset kripto secara keseluruhan. Tekanan jual muncul tepat ketika harga memasuki area resistance utama, diperbesar likuidasi posisi leverage di pasar derivatif yang menambah volatilitas.

Yudhono Rawis menyebut pergerakan tersebut masih berada dalam fase konsolidasi. Pasar perlu mencermati level support dan resistance sebelum melihat arah tren berikutnya.

"Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi setelah beberapa kali menghadapi penolakan di area US$87.000. Level ini menjadi resistance penting karena pasar belum mendapatkan konfirmasi bahwa momentum kenaikan sudah kembali kuat," kata Yudho.

US$84.500 Jadi Penentu Struktur Pasar

Dari sisi teknikal, area US$84.500 berada di sekitar retracement Fibonacci 38,2 persen. Selama level itu bertahan, peluang rebound menuju US$87.000 masih terbuka.

Sebaliknya, penurunan di bawah US$84.500 meningkatkan risiko koreksi lebih dalam menuju area US$82.600. Zona US$82.000–US$83.000 juga perlu diperhatikan apabila tekanan jual menguat.

"US$84.500 menjadi level yang cukup penting untuk melihat apakah koreksi ini hanya bersifat jangka pendek atau mulai berkembang menjadi tekanan jual yang lebih besar. Jika level tersebut bertahan, struktur konsolidasinya masih relatif terjaga," jelas Yudho.

Kegagalan di US$87.000 Belum Ubah Struktur Jadi Bearish

Menurut Yudho, kegagalan Bitcoin mempertahankan posisi di atas US$87.000 belum serta-merta mengubah struktur pasar menjadi bearish. Namun tekanan jual dapat meningkat bila BTC kehilangan support penting di bawah harga saat ini.

Ia menambahkan, pasar perlu melihat apakah Bitcoin mampu mengubah area resistance menjadi support baru. Pergerakan di zona US$87.000–US$87.400 menjadi penting untuk diperhatikan.

"Jika Bitcoin berhasil menembus US$87.000 dan mampu bertahan di atas level tersebut, pasar akan mendapatkan sinyal yang lebih kuat bahwa tekanan beli mulai kembali mendominasi," lanjutnya.

Peluang ke US$90.000–US$93.000 Masih Terbuka

Meski masih tertahan di bawah US$87.000, peluang Bitcoin menuju US$90.000–US$93.000 terbuka jika tekanan jual mereda dan kondisi makro mendukung. Arah Treasury yields dan ekspektasi kebijakan The Fed menjadi faktor yang perlu dicermati.

"Kalau Treasury yields mulai melandai dan ekspektasi kenaikan suku bunga semakin berkurang, aset berisiko seperti Bitcoin bisa mendapatkan ruang yang lebih besar. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diikuti oleh permintaan spot yang kuat," tutur Yudho.

Bitcoin tetap membutuhkan konfirmasi dari sisi harga dan volume untuk menembus resistance US$87.000. "Kalau tekanan jual di area US$87.000 berhasil diserap dan Bitcoin mencatatkan breakout yang valid, US$90.000 hingga US$93.000 bisa menjadi area berikutnya yang diperhatikan. Namun, ini tetap merupakan skenario, bukan kepastian harga," katanya.

Fed Minutes 7 Oktober 2026 Jadi Katalis Berikutnya

Pasar akan mencermati rilis Fed Minutes pada 7 Oktober 2026 untuk melihat arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Komunikasi The Fed dan pergerakan yield dinilai dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

"Kalau komunikasinya cenderung memberikan ruang untuk kebijakan yang lebih longgar dan yield ikut turun, sentimen terhadap Bitcoin bisa membaik. Sebaliknya, jika risiko inflasi kembali meningkat dan yield naik, tekanan terhadap aset berisiko bisa muncul lagi," jelasnya.

Selama BTC bertahan di atas US$84.500, peluang untuk kembali menguji US$87.000 masih terbuka. Pasar disebut masih menunggu konfirmasi arah sebelum menentukan posisi.

Follow www.monitorsumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: matabangsa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks