Pencarian

China Setop Ekspor BBM Sepanjang Oktober, Brent Melonjak ke USD101,50

Minggu, 04 Oktober 2026 • 14:36:01 WIB
China Setop Ekspor BBM Sepanjang Oktober, Brent Melonjak ke USD101,50
Kilang PetroChina menangguhkan ekspor produk minyak olahan sepanjang Oktober.

SUMATERA UTARA — Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 4% ke USD101,50 per barel setelah China menghentikan seluruh ekspor produk minyak olahan sepanjang Oktober. PetroChina dan kilang utama lainnya membatalkan pengiriman diesel, bensin, dan jet fuel yang semula dijadwalkan cair bulan ini. Kebijakan Beijing itu memaksa pembeli global berebut pasokan di tengah krisis energi akibat perang Timur Tengah.

Reuters melaporkan kilang-kilang minyak utama China, termasuk PetroChina, resmi menangguhkan pengiriman ekspor produk olahan sepanjang Oktober. Selama periode libur panjang nasional Golden Week, izin ekspor BBM dari China hanya berlaku untuk Hong Kong dan Makau. Beijing beralasan kebijakan itu diambil demi mengamankan cadangan minyak dalam negeri di tengah ketidakpastian global.

Pasar merespons cepat. Pada perdagangan akhir pekan lalu waktu setempat, minyak mentah acuan Brent melonjak nyaris 4% ke USD101,50 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2% ke posisi USD92,54 per barel. Level itu menembus ambang psikologis USD100 yang terakhir kali disentuh saat eskalasi konflik Timur Tengah memuncak.

Diesel dan Jet Fuel Jadi Titik Paling Rentan

Pukulan kebijakan China menghantam dua produk yang paling sensitif dalam rantai pasok global, yakni diesel dan bahan bakar penerbangan. Di Amerika Serikat, harga solar untuk sektor industri telah meroket ke rekor tertinggi sepanjang sejarah.

PetroChina dilaporkan membatalkan sejumlah pengiriman jet fuel dan bensin yang tadinya dijadwalkan cair bulan ini. Pembatalan itu memukul pembeli di Asia Pasifik yang selama ini mengandalkan pasokan China untuk menutup defisit domestik.

"Jika pasokan BBM dari Tiongkok menghilang dari pasar ekspor, para pembeli di negara lain terpaksa berebut dari ceruk pasokan produk olahan yang sudah sangat terbatas," kata Anindya Banerjee, Kepala Riset Mata Uang & Komoditas Kotak Neo.

Mengapa Beijing Pilih Kunci Ekspor Sekarang

Langkah China bukan tanpa alasan. Perang di Timur Tengah membuat rute pasokan minyak mentah ke Asia berisiko terganggu. Beijing memilih menahan produk olahan di dalam negeri untuk memastikan stok domestik aman selama musim libur panjang.

Golden Week sendiri merupakan periode puncak konsumsi BBM di China. Jutaan warga bepergian menggunakan kendaraan pribadi dan pesawat, sehingga permintaan bensin dan jet fuel melonjak tajam. Pemerintah tidak ingin menghadapi kelangkaan di tengah momentum konsumsi tertinggi tahunan.

Dampak ke Pasar Energi Indonesia

Bagi Indonesia, kenaikan Brent ke atas USD100 per barel langsung menekan postur APBN. Setiap kenaikan USD1 per barel terhadap asumsi ICP memperlebar defisit anggaran melalui subsidi dan kompensasi energi.

Pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN pada level yang jauh di bawah USD101 per barel. Selisih itu membuat beban subsidi solar, Pertalite, dan LPG 3 kilogram berpotensi membengkak bila harga bertahan tinggi sepanjang kuartal IV.

Di sisi lain, emiten energi batu bara dan minyak mentah berpeluang menikmati kenaikan pendapatan. Saham sektor energi biasanya jadi tujuan investor saat harga komoditas melonjak. Namun tekanan justru datang dari sisi biaya bahan baku industri yang bergantung pada diesel.

Yang Perlu Dicermati Investor

Durasi pengetatan ekspor China menjadi variabel kunci. Bila pembatasan hanya berlaku sepanjang Oktober, pasar masih punya ruang menyerap guncangan. Sebaliknya, perpanjangan kebijakan hingga November akan memperpanjang reli harga minyak.

Pelaku pasar juga mencermati respons OPEC+ dan Amerika Serikat. Kedua pemain itu punya kapasitas menambah pasokan untuk meredam lonjakan. Tanpa tambahan pasokan, risiko Brent bertahan di atas USD100 per barel sepanjang kuartal IV tetap terbuka.

Follow www.monitorsumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks