JAKARTA — Peluncuran sertifikat berlangsung bersamaan dengan Fastmarkets International Aluminium Conference 2026, forum tahunan industri aluminium global yang pada 2026 memasuki penyelenggaraan ke-40. Forum ini mempertemukan lebih dari 500 pelaku industri dan pengambil keputusan dari berbagai mata rantai industri aluminium dunia.
Agenda yang dibahas mencakup perkembangan pasar, dinamika harga dan pasokan, perdagangan global, hingga isu keberlanjutan dan pengembangan aluminium rendah karbon.
Energi Tenaga Air Jadi Fondasi Aluminium Rendah Emisi
Inalum selama ini memanfaatkan energi listrik berbasis tenaga air dalam proses peleburannya. Karakteristik itu memberikan fondasi bagi perusahaan untuk mengembangkan produk aluminium dengan jejak karbon lebih rendah dibandingkan produksi yang bergantung pada sumber listrik berbasis energi fosil.
Keunggulan tersebut dinilai semakin relevan ketika industri global mulai menempatkan aspek emisi karbon, keberlanjutan, dan transparansi rantai pasok sebagai pertimbangan dalam pemilihan produk.
Direktur Pengembangan Usaha dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengatakan peluncuran Sertifikasi Green Aluminium merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat nilai tambah sekaligus membuka peluang serta akses pasar yang lebih luas.
"Pasar global semakin memberikan perhatian terhadap produk aluminium dengan jejak karbon yang lebih rendah. INALUM memiliki keunggulan karena proses produksi aluminium kami ditopang oleh energi berbasis tenaga air (renewable energy). Keunggulan ini ingin kami terjemahkan menjadi posisi tawar yang lebih kuat, sehingga produk aluminium Indonesia semakin kompetitif dan memiliki akses yang lebih luas di pasar internasional," ujar Arif.
Kolaborasi dengan Mitsubishi RtM hingga MIND ID Trading
Momentum peluncuran turut diperkuat penguatan kerja sama antara Inalum dan sejumlah mitra internasional. Mitra tersebut antara lain Mitsubishi RtM Jepang, Hartree, serta MIND ID Trading (MIT) Singapore-Concord Inggris.
Kolaborasi dengan para mitra global itu menjadi bagian dari langkah Inalum memperluas jejaring internasional dan membuka peluang pengembangan pasar bagi produk aluminium perusahaan. Kerja sama ini juga menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi produk aluminium Indonesia untuk masuk dan berkembang di pasar global yang semakin memberikan perhatian besar terhadap aspek keberlanjutan.
Membaca Perubahan Kebutuhan Pelanggan
Kepala Grup Komersial dan Manajemen Rantai Pasok, Jevi Amri menambahkan, Sertifikasi Low Carbon Aluminium juga menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membaca perubahan kebutuhan pelanggan dan memperkuat posisi produk Inalum di pasar global.
"Bagi kami, Low Carbon Alumunium bukan hanya tentang proses produksi yang lebih rendah emisi, tetapi juga bagaimana keunggulan tersebut dapat menjawab kebutuhan pelanggan dan menciptakan peluang pasar baru. Inalum ingin memastikan bahwa kekuatan energi bersih yang kita miliki dapat memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi aluminium Indonesia dalam rantai pasok global," tutur Jevi.
Mengenalkan Kapabilitas Aluminium Indonesia ke Pelaku Industri Dunia
Peluncuran Low Carbon Aluminium bersamaan dengan ajang Fastmarkets International Aluminium Conference 2026 juga menjadi bagian dari upaya Inalum memperkenalkan kapabilitas industri aluminium Indonesia secara lebih luas. Sasaran pengenalan itu mencakup pelaku industri, trader, pelanggan, serta mitra strategis internasional.
Melalui penguatan produk rendah emisi karbon dan kolaborasi dengan mitra global, Inalum terus mendorong aluminium Indonesia memiliki daya saing yang semakin kuat. Perusahaan juga mengambil bagian dalam perkembangan industri aluminium dunia yang bergerak menuju rantai pasok yang lebih berkelanjutan.