Pencarian

Eva Olid Belum Temukan Formula Main Manchester United, Ini Penyebabnya

Sabtu, 26 September 2026 • 17:05:01 WIB
Eva Olid Belum Temukan Formula Main Manchester United, Ini Penyebabnya
Pelatih Manchester United, Eva Olid, memimpin sesi latihan tim di markas klub.

SUMATERA UTARA — Manchester United menelan dua kekalahan beruntun di awal WSL sebelum menahan Arsenal 1-1, dengan rata-rata penguasaan bola hanya 37 persen dalam tiga laga. Gaya high-possession yang dijanjikan Eva Olid belum terwujud, meski kemenangan 10-1 atas Sheffield United di Piala Liga menunjukkan progres.

Pelatih asal Portugal itu datang ke Manchester United dengan reputasi membangun sepak bola menyerang berbasis penguasaan bola. Rekam jejaknya bersama Hearts di Skotlandia membuktikan idealismenya. Tapi Liga Super Wanita Inggris menyajikan tantangan yang jauh lebih keras.

Dua laga pembuka berakhir pahit: kalah 2-1 dari London City Lionesses di malam pembukaan, lalu dihantam Chelsea 5-0. Satu poin dari Arsenal jadi penawar, walau cara bermain United di laga itu jauh lebih pragmatis dari yang dibayangkan banyak orang.

Beda Pendekatan Olid dan Marc Skinner

Perbedaan paling mencolok ada pada cara United membangun serangan dari belakang. Olid memakai basis 4-2 atau 3-2 dengan dua gelandang tengah membentuk poros sempit. Pemain sayap di sisi bola bertahan tinggi dan lebar, sementara winger sisi jauh turun lebih dalam untuk membentuk kotak di lini tengah.

Skinner juga memakai basis serupa, tapi prinsipnya berbeda. Formasinya lebih simetris dan teregang dalam pola 3-2-2-3, dengan posisi pemain lebih terpaku. Para gelandang nomor 10-nya diminta tetap tinggi di kantong ruang, menerima bola di area berbahaya atau menarik lawan keluar dari posisinya.

Olid mengubah itu. Pemain tengahnya kini punya kebebasan lebih untuk mendekati bola, menciptakan keunggulan jumlah di area tengah. Ketika Park beralih dari sayap ke tengah, bek sayap lawan dihadapkan pilihan sulit: ikut masuk atau biarkan United unggul jumlah di sekitar bola.

Kelemahan Struktur yang Mulai Terlihat

Semua sistem punya konsekuensi. Struktur Skinner yang lebih kaku memudahkan lawan berani menandingi mereka pemain per pemain. Sebaliknya, fokus Olid pada kombinasi ruang sempit di tengah membuat United lebih rentan kehilangan bola di area berbahaya dan terkena serangan balik.

Data tiga laga liga memperlihatkan masalahnya. United rata-rata hanya menguasai bola 37 persen. Olid sendiri mengakui dua persoalan utama usai laga kontra Arsenal.

"Kami kehilangan umpan-umpan sederhana dan tidak bisa mengenali pemain yang bebas," kata Olid, dikutip dari Sky Sports.

Kiper Phallon Tullis-Joyce kesulitan dengan bola di kakinya, kurang memiliki kualitas yang dibutuhkan sistem ini. Tekanan man-to-man Chelsea membongkar kelemahan itu dan mencegah United membangun penguasaan bola berkepanjangan.

Bukan hanya kiper yang beradaptasi berat. Gaya Olid menuntut kemampuan teknis lebih baik dan kecepatan berpikir. Bermain menembus area tengah yang padat berarti menerima bola dalam tekanan, ber kombinasi di ruang sempit, dan mengenali pemain yang tak terjaga. Semua itu bergantung pada chemistry dan pemahaman permainan, bukan sekadar pola yang sudah dirancang.

Hinata Miyazawa dan Julia Zigiotti-Olme tampak paling cocok dengan pendekatan ini. Tapi membangun pemahaman kolektif dan menghilangkan keraguan butuh waktu.

Olid Mulai Beradaptasi

Gol keempat Chelsea memperlihatkan trade-off itu secara gamblang. United kehilangan bola saat mencoba bermain menembus tengah dari posisi dalam, lalu dihukum lewat transisi cepat.

Olid merespons. Tullis-Joyce terlihat lebih sering memainkan bola panjang, dan melawan Arsenal, Awujo yang dipanggil kembali memberi target lebih mumpuni ketimbang Ella Toone. Ini juga membuat striker Elisabeth Terland tetap tinggi, tak terus turun untuk duel udara atau menahan bola.

Soal fase tanpa bola, Olid punya prinsip jelas. "Kami tim yang perlu menekan tinggi," ujarnya kepada Sky Sports.

Namun melawan Chelsea, pressing itu berkali-kali dibongkar. Dengan Monica Jusu Bah memulai di kiri dan Terland memimpin pressing, Jusu Bah bergerak ke dalam saat bola mengalir ke sisi lebar.

Kemenangan 10-1 atas Sheffield United di Piala Liga jadi sinyal bahwa Olid sedang menemukan bentuknya. Tapi di liga, waktu tidak menunggu. United butuh chemistry cepat sebelum jarak dengan tim papan atas makin melebar.

Follow www.monitorsumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bbc.co.uk

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks