SUMATERA UTARA — Microsoft mengakui update keamanan Windows 11 KB5124008 yang dirilis September 2026 membuat fitur File History gagal membuat atau memperbarui cadangan ke drive eksternal maupun lokasi jaringan. Perbaikan sudah tersedia lewat update opsional yang jadi pratinjau patch Oktober, tapi belum sepenuhnya tuntas karena tombol "Run now" dan sinkronisasi waktu simpan masih bermasalah. Pengguna yang tidak mau ambil risiko sebaiknya menunggu update penuh Oktober mendatang.
Bug yang dilaporkan sejak update September muncul lebih dari dua pekan lalu itu sempat tidak diakui Microsoft, meski keluhannya tersebar luas di forum pengguna. File History sendiri merupakan fitur bawaan Windows yang menyimpan salinan file ke hard disk eksternal atau lokasi jaringan. Fitur ini jarang dipakai pengguna rumahan, tetapi krusial bagi pekerja yang mengandalkannya sebagai lapisan cadangan utama.
Microsoft akhirnya buka suara ke Windows Latest soal penyebab masalahnya. Perusahaan menyebut gangguan muncul setelah pemasangan patch keamanan bulanan yang menyentuh komponen layanan cadangan.
"Setelah memasang update keamanan Windows September 2026 KB5124008, sebagian pelanggan yang memakai File History mungkin tidak dapat membuat atau memperbarui cadangan. File History digunakan untuk mencadangkan file ke drive eksternal atau lokasi jaringan," demikian pernyataan Microsoft.
Perbaikan Baru Bersifat Opsional
Kabar baiknya, update September terbaru yang statusnya opsional sudah menambal bug tersebut. Update ini sebenarnya adalah pratinjau dari patch Oktober yang akan dirilis penuh. Windows Latest memverifikasi File History kembali berfungsi dan bisa membuat cadangan setelah patch dipasang.
Sayangnya perbaikan itu belum bersih total. Seorang pengguna melaporkan di portal Microsoft Learn bahwa kemampuan "Run now" masih bermasalah, begitu pula sinkronisasi waktu penyimpanan di dalam fitur tersebut.
Yang perlu dicatat, masalah "Run now" dan sinkronisasi ini bukan berasal dari pekerjaan Microsoft terbaru di Windows 11. Glitch tersebut sudah ada sejak update Windows 11 pada Juli 2026, jadi usianya lebih tua dari bug File History yang jadi sorotan bulan ini.
Risiko Memasang Update Opsional
Update opsional berstatus beta, sehingga berpotensi membawa bug lain yang belum terdeteksi. Pengguna yang memilih memasangnya sekarang perlu siap menghadapi kemungkinan gangguan baru di luar masalah File History.
Jalur paling aman adalah menunggu update penuh Oktober yang dijadwalkan tiba 13 Oktober, sekitar dua setengah pekan dari sekarang. Sambil menunggu, cadangan file bisa dilakukan manual atau dialihkan sementara ke OneDrive agar data tetap aman.
Kepercayaan Pengguna Jadi Taruhan
Rentetan bug Windows 11 sepanjang 2026, termasuk masalah di rilis 24H2, membuat sebagian pengguna memilih menunda update dalam jangka panjang. Bukan sekadar menunda sepekan atau dua pekan, melainkan menahan pembaruan hingga berbulan-bulan.
Salah satu pengguna di Reddit menulis: "Saya sekali lagi menyarankan semua orang menonaktifkan update Windows. Biarkan orang lain menguji bug-nya selama beberapa bulan, baru kemudian update. PC Anda tidak akan meledak hanya karena tertinggal 3 bulan dari versi Windows 11."
Komentar itu muncul sebagai balasan atas pertanyaan apakah ada fitur inti Windows 11 yang belum pernah rusak setidaknya dua kali sejak dirilis. Sikap sinis terhadap update Windows 11 memang mengakar di banyak komunitas pengguna.
Windows memang sistem operasi rumit yang harus berjalan di berbagai konfigurasi PC dan perangkat, plus menopang banyak fitur warisan untuk segmen pengguna tertentu. Meski begitu, kompleksitas itu bukan alasan untuk melewatkan pengujian kualitas. Tanpa perbaikan di sisi QA dan testing, target Microsoft menyatakan "Windows 11 sudah beres" pada 2026 akan sulit tercapai.
Bagi pengguna yang selama ini mengandalkan File History, menunggu patch penuh Oktober adalah pilihan paling masuk akal. Sementara bagi yang sudah terbiasa dengan solusi cadangan cloud, gangguan ini mungkin tidak terasa mengganggu sama sekali.