MEDAN — Penurunan ini menandai pergeseran besar dalam industri otomotif dunia. Sepanjang paruh pertama, mobil bensin mencatat penjualan 20,25 juta unit atau turun 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pangsa pasar kelompok ini merosot ke 49 persen, pertama kali di bawah separuh sejak mobil mulai dijual luas pada 1920-an.
Di sisi lain, kendaraan listrik (EV) melanjutkan pertumbuhan dengan 6,87 juta unit terjual, naik 12 persen. Pangsa EV kini mencapai 17 persen dari total pasar global.
Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah disebut menjadi salah satu pemicu konsumen beralih ke kendaraan listrik. Biaya operasional EV yang lebih rendah dinilai menjadi pertimbangan utama di tengah ketidakpastian harga bahan bakar.
Pergeseran paling tajam terlihat di dua pasar utama. Penjualan mobil bensin di Tiongkok turun 26 persen, sedangkan di Eropa melemah 13 persen.
Berbanding terbalik dengan mobil bensin, penjualan kendaraan listrik di Eropa justru melonjak 32 persen. Kawasan Asia Tenggara dan sejumlah wilayah lain juga mencatat pertumbuhan serupa.
Kendaraan hibrida turut menikmati tren ini. Penjualannya naik 10 persen menjadi 7,27 juta unit secara global.
Data Mobility Global menunjukkan industri otomotif dunia sedang bergerak cepat menuju elektrifikasi. Kombinasi EV dan hibrida kini menguasai porsi pasar yang terus membesar, menggerus dominasi mesin pembakaran dalam.
Para ahli menilai kecepatan peralihan ke kendaraan listrik tidak seragam di semua negara. Kebijakan pemerintah, insentif fiskal, dan kesiapan infrastruktur pengisian daya disebut menjadi faktor penentu.
Meski demikian, tren jangka panjang pasar dinilai sudah jelas condong ke arah elektrifikasi transportasi. Penurunan pangsa mobil bensin di bawah 50 persen menjadi penanda bahwa era dominasi bahan bakar fosil mulai bergeser.