MEDAN — Kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat dan bencana bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Prinsip itu dipegang teguh M. Hendra Ramli, ST., CI. (Hendra Blu), praktisi, instruktur, dan tokoh penggiat pengurangan risiko bencana di Sumatera Utara.
Mengampu amanah sebagai Direktur Perkumpulan Lembaga First Aid Sumut (FAI SUMUT) sekaligus Sekretaris Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Sumatera Utara periode 2025–2028, Hendra menjembatani sinergi antara masyarakat sipil, komunitas relawan, dan pemangku kebijakan daerah.
Latar belakang akademis sebagai Sarjana Teknik Elektro dari Institut Teknologi Medan (ITM) serta alumni SMA Al Azhar Medan membentuk pola pikir metodis dan terstruktur dalam merancang program edukasi keselamatan.
Baginya, penanganan gawat darurat dan mitigasi bencana membutuhkan presisi serta metodologi yang matang, tidak bisa hanya mengandalkan intuisi semata.
Kompetensi keinstrukturan Hendra diperkuat sejumlah kualifikasi kompetensi tingkat tinggi:
Dalam rekam jejaknya sebagai Fasilitator Daerah (FASDA) DESTANA BPBD Provinsi Sumut, Hendra mengabdi selama 5 tahun memfasilitasi pembentukan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana di Kabupaten Deli Serdang, Karo, dan Serdang Bedagai.
Dua tahun terakhir, ia bertugas di wilayah Kota Medan untuk program yang sama.
Di bawah kepemimpinannya, FAI SUMUT memperluas jaringan kemitraan strategis melalui kesepakatan kerja sama (MoU) dan rekomendasi teknis dengan BPBD Provsu, Dinas Kesehatan Provsu, hingga institusi pendidikan dan korporasi.
Di sektor BUMN dan objek vital, FAI SUMUT menyiapkan simulasi keadaan darurat terpadu, Exercise ISPS Code, kesiapsiagaan kebakaran, hingga ancaman keamanan.
Sejumlah institusi yang terlibat antara lain RS. Methodist, RS. Sufina Azis, RS. USU, PT PLN (berkolaborasi dengan Gegana Brimobdasu dan Dinas P2K Kota Medan), Bank Indonesia, PT Pelindo, PT Angkasa Pura II, PT KAI, hingga PT Wijaya Karya (WIKA).
Di sektor kebencanaan dan desa siaga, Hendra berkontribusi aktif dalam program penguatan kapasitas daerah bersama BPBD dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
Hendra memelopori penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB/SMAB Inklusi) bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di berbagai Sekolah Luar Biasa. Sejumlah sekolah yang terlibat meliputi SLB-E Negeri Pembina, SLB-Muzdalifah, SLB-C Karya Tulus, SLB Karya Murni, dan SLB C YPAC Medan.
Program itu berjalan bekerja sama dengan Kemendikbud RI dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.
Ia juga mendedikasikan kepakarannya sebagai instruktur pramuka di lingkungan Kwarda Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara (Kwardasu).
Aktifitas Hendra tidak berhenti di ruang pelatihan formal. Ia memperkuat kapasitas kesiapsiagaan kebencanaan dan pelatihan medis lapangan bersama lembaga non-pemerintah serta program konservasi seperti Yayasan Nurani Luhur Masyarakat (YNLM), Human Initiative, dan Wildlife Conservation Society (WCS) - Indonesia Program.
Ia memprakarsai Gerakan Masyarakat Penolong Pertama (GMPP) guna memasyarakatkan pertolongan pertama di lingkungan keluarga dan kampus.
Aksi kemanusiaannya juga merambah medan berat melalui peran dalam divisi penanggulangan bencana dan off-road rescue bersama Xtrim Rescue (Xtrim Indonesia).
Selain itu, Hendra terlibat dalam pengolahan limbah plastik dan pengembangan ekonomi sirkular bersama Recyclo Goods dan Precious Plastic Medan.
Komitmen panjang dalam gerakan kemanusiaan diwarnai rekam jejak silaturahmi yang kuat dengan berbagai pihak. Hendra menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara elemen akar rumput dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
"Kebersamaan dan niat tulus untuk kemanusiaan adalah modal utama kita. Mari terus gelorakan semangat edukasi First Aid dan Kesiapsiagaan Bencana di Sumatera Utara. Bersama kita wujudkan Sumut yang tangguh dan berkah. Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan!" ujar Hendra.
Filosofi hidupnya sederhana namun tegas: Time Saving is Life and Limb Saving. Suami dari Poppy Shelvia Pulungan itu memaknai setiap detik respons darurat sebagai penentu antara nyawa dan cedera permanen.