Irak Darurat Ekonomi, Pendapatan Minyak Rp1.067 Triliun Lenyap

Penulis: Khairunas Ibrahim  •  Senin, 28 September 2026 | 09:35:32 WIB
Pemerintah Irak menyatakan darurat ekonomi setelah kehilangan pendapatan minyak senilai USD60 miliar akibat lumpuhnya Selat Hormuz.

SUMATERA UTARA — Irak resmi menyatakan kondisi darurat ekonomi setelah kehilangan pendapatan minyak senilai USD60 miliar atau sekitar Rp1.067 triliun akibat lumpuhnya rute pelayaran di Selat Hormuz. Sektor minyak menyumbang lebih dari 90% anggaran belanja federal negara itu, sehingga hilangnya jalur ekspor memukul hampir seluruh sendi perekonomian. Warga Baghdad kini menghadapi kelangkaan barang impor dan lonjakan harga hingga 30%.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyebut negaranya tengah menghadapi "tantangan ekonomi luar biasa" usai perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang meletus sejak akhir Februari lalu memutus arus perdagangan lewat Selat Hormuz. Al-Zaidi menyampaikan pernyataan itu seperti dikutip Al Jazeera, menggambarkan betapa dalamnya ketergantungan Baghdad pada satu jalur pelayaran yang kini lumpuh.

Selat Hormuz Lumpuh, 90 Persen Rute Ekspor Putus

Selat Hormuz adalah jalur vital bagi kapal tanker yang mengangkut minyak Irak ke pasar global. Begitu rute itu diblokir, sekitar 90% jalur ekspor minyak Teluk tidak lagi bisa dilalui. Bagi Irak, yang sektor minyaknya menopang lebih dari 90% anggaran belanja federal, gangguan ini bukan sekadar masalah logistik — ini kehilangan sumber pemasukan utama negara.

Nilai pendapatan yang lenyap mencapai USD60 miliar, setara Rp1.067 triliun dengan kurs Rp17.793 per dolar AS. Angka itu nyaris setara dengan seluruh belanja negara Irak dalam setahun, sehingga pemerintah tidak punya banyak ruang untuk menutup defisit tanpa memangkas program atau mencari utang baru.

Barang Impor Langka, Harga Melonjak 30 Persen

Efeknya tidak berhenti di meja pemerintah. Irak sangat bergantung pada impor untuk kebutuhan harian, mulai pangan hingga elektronik. Ketika kapal pengangkut barang tidak bisa masuk, pasokan ke dalam negeri tersendat.

Pemilik supermarket di Baghdad, Alaa-Eddin Sulaibi, menuturkan proporsi barang impor di tokonya merosot dari 90% menjadi 70% karena kelangkaan dan keterlambatan pengiriman. Harga barang impor pun naik tajam 25% hingga 30%. Kenaikan itu langsung dirasakan rumah tangga yang belanja hariannya bergantung pada produk luar.

"Terjadi kenaikan harga, di mana harga barang impor naik tajam sebesar 25% hingga 30%," kata Sulaibi menggambarkan kondisi tokonya.

Ketergantungan Minyak Jadi Titik Rawan

Struktur ekonomi Irak yang terkonsentrasi pada minyak membuat guncangan tunggal bisa menjalar cepat ke seluruh sektor. Ketika ekspor terhenti, devisa negara menipis, kemampuan mengimpor melemah, dan harga di pasar domestik melonjak. Lingkaran itu sulit diputus tanpa diversifikasi ekonomi yang selama ini belum berjalan signifikan.

Pemerintah Irak belum merinci langkah konkret untuk menambal kehilangan pendapatan. Namun pernyataan darurat ekonomi memberi sinyal bahwa Baghdad akan mencari jalur ekspor alternatif, mengetatkan belanja, atau meminta dukungan internasional. Semua opsi itu menghadapi kendala geografis dan politik yang tidak sederhana.

Bagi pasar minyak global, gangguan di Selat Hormuz juga menambah tekanan pada harga dan pasokan, terutama bagi negara-negara Asia yang menjadi pembeli utama minyak Timur Tengah. Ketegangan yang berlarut berpotensi memperpanjang ketidakpastian energi di kawasan.

Kondisi Irak menjadi pengingat keras bahwa ekonomi yang bergantung pada satu komoditas dan satu jalur pelayaran rentan terhadap konflik geopolitik. Tanpa perbaikan struktural, darurat ekonomi bisa berubah menjadi krisis berkepanjangan yang membebani rakyat Irak jauh setelah gencatan senjata tercapai.

Reporter: Khairunas Ibrahim
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top