BINJAI — PT Railink (KAI Bandara) memastikan rangkaian KA U80 Srilelawangsa tetap laik jalan setelah insiden tertempernya kendaraan roda empat di perlintasan resmi terjaga yang berada di emplasemen Stasiun Binjai. Kereta tiba di Stasiun Binjai pada pukul 13.42 WIB, dua menit setelah kejadian.
Laporan masinis menyebutkan kereta menemper sebuah minibus jenis Avanza saat melintas di kilometer 20+4/5. Perlintasan tersebut dijaga oleh petugas Dinas Perhubungan, bukan perlintasan liar.
Petugas KAI Bandara langsung berkoordinasi dengan unit pengamanan, sarana, dan petugas terkait begitu insiden dilaporkan. Pemeriksaan menyeluruh dilakukan terhadap rangkaian kereta maupun kondisi jalur rel di sekitar lokasi.
Hasil pemeriksaan memastikan seluruh rangkaian kereta api dalam kondisi aman dan dapat melanjutkan perjalanan. Minibus yang tertemper dilaporkan terpental ke sisi luar jalur kereta api.
Tidak ada gangguan terhadap perjalanan kereta api lainnya akibat kejadian tersebut. Jadwal keberangkatan kereta lain di lintas Medan–Binjai berjalan normal.
Direktur Utama KAI Bandara, Porwanto Handry Nugroho, menegaskan keselamatan perjalanan kereta api dan masyarakat menjadi prioritas utama perusahaan.
"Kami memastikan bahwa setelah kejadian, petugas segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sarana dan jalur untuk memastikan perjalanan kereta api tetap aman. Seluruh rangkaian KA Srilelawangsa dalam kondisi aman dan kejadian ini tidak mengganggu perjalanan kereta api lainnya," ujar Porwanto.
KAI Bandara mengimbau seluruh pengguna jalan untuk selalu mematuhi rambu-rambu dan aturan saat melintasi perlintasan sebidang. Pengguna jalan diminta berhenti ketika sinyal peringatan aktif dan mendahulukan perjalanan kereta api.
Perlintasan sebidang merupakan area yang membutuhkan kewaspadaan tinggi dari seluruh pengguna jalan. KAI Bandara menyatakan terus mendukung berbagai program peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang bersama para pemangku kepentingan.
Langkah itu ditempuh sebagai upaya mencegah terjadinya kecelakaan dan meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api maupun masyarakat. Insiden di Binjai menjadi pengingat bahwa perlintasan terjaga sekalipun tetap menyimpan risiko jika pengguna jalan mengabaikan rambu.