Universitas Indonesia mengirimkan Tim Marsiadapari Tandihat 2026 ke Hunian Sementara Desa Tandihat, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, untuk memulihkan kondisi psikososial anak-anak pascabencana. Tim lintas kampus ini melibatkan 14 mahasiswa FIK UI, dua alumni, dan 10 mahasiswa Universitas Aufa Royhan. Kegiatan lapangan dimulai Rabu (23/9) dengan fokus pada pendampingan anak dan layanan kesehatan warga huntara.
TAPANULI SELATAN — Universitas Indonesia menerjunkan Tim Marsiadapari Tandihat 2026 ke kawasan Hunian Sementara Desa Tandihat, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Program pengabdian masyarakat ini menyasar pemulihan psikososial anak-anak sekaligus mendukung warga yang masih tinggal di huntara pascabencana.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI, Dr LG Saraswati Putri, menyatakan kehadiran UI merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk hadir bersama masyarakat dalam menghadapi situasi pascabencana.
"Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali lingkungan fisik, tetapi juga dengan memulihkan rasa aman, kepercayaan diri, semangat belajar, dan hubungan sosial masyarakat, terutama anak-anak," kata Saraswati di Jakarta, Kamis.
Koordinator Tim Mahasiswa UI, Aqila Bunga Nurhanin, yang juga Ketua BEM Fakultas Ilmu Keperawatan UI, menjelaskan rangkaian kegiatan diperluas hingga ke warga huntara. Untuk anak-anak di SD Darurat Desa Tandihat, tim melakukan pendampingan melalui media kreatif, storytelling, dan permainan.
"Kegiatan Marsiadapari Tandihat terdiri atas beberapa rangkaian. Untuk anak-anak di SD Darurat Desa Tandihat, tim akan melakukan pendampingan melalui media kreatif, storytelling, dan permainan sebagai bagian dari proses pemulihan psikososial," katanya.
Bagi warga dewasa, tim menyiapkan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan gratis, serta bakti sosial. Ketiga layanan itu menjadi bentuk dukungan langsung bagi masyarakat yang masih menempati huntara.
Tim Marsiadapari Tandihat 2026 dipimpin Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Hendra Kaprisma. Komposisi tim terdiri dari 14 mahasiswa FIK UI, dua alumni UI dari FIB dan FIK, serta 10 mahasiswa Universitas Aufa Royhan.
Tim juga diperkuat dosen-dosen FIK UI, yakni Ns La Ode Abdul Rahman, Ns Indah Permata Sari, dan Ns Astuti. Pendekatan yang dipakai bersifat kolaboratif melalui literasi pendidikan, pendampingan psikososial, layanan kesehatan, dan bakti sosial.
Program ini memberi perhatian khusus kepada anak-anak yang berada dalam situasi pascabencana. Pengalaman bencana dapat memengaruhi rasa aman, proses belajar, interaksi sosial, serta kemampuan anak mengenali dan mengekspresikan emosinya.
Pendampingan dirancang suportif, edukatif, kreatif, interaktif, dan berpusat pada anak. Kegiatan diarahkan tidak hanya pada pemulihan psikososial, tetapi juga penciptaan lingkungan yang mendukung anak kembali belajar, bermain, berkomunikasi, dan membangun harapan.
Rektor Universitas Aufa Royhan, Assoc Prof Anto, menilai kolaborasi kedua perguruan tinggi menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem pengabdian masyarakat. Menurutnya, kerja sama itu tidak hanya berbasis keilmuan, tetapi juga mengedepankan solidaritas antarkampus dan kepedulian terhadap masyarakat.
Melalui kolaborasi UI, Iluni UI, UNAR, pemerintah daerah, masyarakat, mitra sponsor, dan berbagai unsur pendukung lain, Marsiadapari Tandihat diharapkan menjadi ruang bersama untuk saling belajar dan menguatkan. Pengetahuan akademik dinilai harus hadir secara manusiawi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.